Monday, 9 December 2019

BATU SATAM (BILLITONIT) METEORIT TEKTITE 67GR - #TJS05









BATU SATAM (BILLITONIT) METEORIT TEKTITE 67GR
Item Code : TJS 05

Batu Satam adalah batuan khas Indonesia yang ditemukan di pulau Belitung Timur, Provinsi Bangka Beitung. Batu ini berwarna hitam dan memiliki urat-urat yang khas. Batu Satam termasuk kedalam batuan langka. Batu ini terbentuk dari hasil proses alam atas reaksi tabrakan meteor dengan lapisan bumi yang mengandung timah tinggi jutaan tahun lalu. Serpihan batu meteor itu tersebar keseluruh pelosok dunia seperti Australia, Cekoslovakia, Arab, dan di Indonesia tepatnya di pulau Belitung. Saat jatuh diatas tanah pulau Belitung, meteor ini bereaksi dengan kandungan timah yang sangat banyak yang terdapat dipulau Belitung, sehingga membentuk batu hitam yang kemudian dinamakan Batu Satam. Karena proses inilah Batu Satam hanya terdapat di Indonesia dan menjadi batuan langka yang diburu para kolektor batu diseluruh dunia. Di Belitung sendiri batu satam ini di jadikan sebagai ikon dari ibu kota Belitung yaitu Tanjung Pandan

Latar belakang :
Batu Satam pertama kali ditemukan di Pulau Belitung pada tahun 1973. Di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit. Batu ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penambang timah beretnis cina dalam penambangan timah dengan kedalaman 50 meter. Menurut Sejarah, penamaan Baru Satam ini didasarkan pada nama penemunya yang terdiri dari dua suku kata, yaitu Sa dan Tam. Jika diartikan secara harfiah, Sa berarti pasir dan Tam berarti empedu. Sehingga Satam memiliki arti empedu pasir. Batu Satam memiliki beberapa nama yakni Taktite dan Billitonit. Istilah Taktite digunakan oleh para ilmuan yang meneliti Batu Satam, sedangkan istilah Billitonit digunakan oleh seorang peneliti dari Belanda bernama Ir. N. Wing Easton yang melakukan penelitian terhadap Batu Satam pada tahun 1922. Batu satam sudah diuji oleh Fakultas MIPA Universitas Padjajaran dan Laboratorium Kimia Mineral dan Lingkungan. Menurut penelitian ilmiah, sekitar 700 ribu tahun lalu sebuah meteor jatuh ke bumi Indonesia. Meteor inlah yang kemudian menjadi cikal bakal Batu Satam.

Gemstone Name : Billitonite Tektite Meteorite Specimen Gem
Local name : Satam (Batu Hitam)
Origin : Bangka Belitung
Color : Black
Dimensi -/+ : Panjang 51mm x Lebar 44mm x Tebal 23mm
Berat : 67 gram

HARGA : 850.000,- Idr

=======================================================

Photo dibawah adalah contoh satam koleksi kami yang sengaja dibelah untuk mengetahui bagian dalamnya.

Photo dibawah ketika batu disenter

kalau tidak tebal bisa tembus

kalau tebal seperti ini cahaya tidak tembus

Note : 
- Barang kami ambil menggunakan kamera digital 18mp didalam ruang tertutup dengan pencahayaan matahari luar.
- Edit photo yang kami lakukan : Resize, crop, dan pemberian water mark
- Pengukuran kami lakukan dengan menggunakan sigmat dan timbangan digital
- Pengukuran batu / barang diambil dari sudut terluar.
- Natural no Treatment ! Tanpa Memo !
- Mohon perhatikan dengan baik keterangan dan photo-photo detail barang di atas
- Barang yang kami kirim = barang yang kami photo di atas
- Perbedaan resolusi photo bisa terjadi karena faktor setingan layar monitor Anda & efek pencahayaan dari proses pengambilan gambar

====================================================
Sejarah terjadinya Tektite Meteorite Specimen Gem


1) Sekitar beberapa ribu tahun lalu sebuah asteroid yang besar menabrak bumi dengan sudut tabrakan yang kecil.
2) Pada tahap awal dari tabrakan, energi kinetis dari asteroid yang menabrak bumi ini melelehkan dan menghantarkan momentum kepada lapisan atas dari batuan di permukaan bumi (seperti pasir dan lumpur) di daerah tabrakan.
3) Lapisan yang meleleh, terdiri dari batuan yang mencair, meninggalkan atmosfer bumi dan pecah menjadi batu semi cair berbentuk bulatan-bulatan kecil (globules) yang bernama “tektite”. Globules ini membentuk bola, dumbbells atau air mata, tergantung pada kecepatan rotasi yang terjadi saat pembentukan batu tektites atau batu satam itu.
4) Tektite yang berbentuk bola, dumbbells dan air mata mendingin dengan cepat, begitu cepat sehingga mereka membentuk kaca (sama dengan kaca, tetapi tidak murni, seperti di botol anggur atau bir modern).
5) Sekitar lima hingga enam menit setelah tabrakan dengan asteroid terjadi, bola yang sekarang telah membeku dan menjadi solid mulai masuk kembali ke atmosfer bumi dan jatuh ke bumi.
6) Karena Tektite itu memasuki kembali atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, gaya gesekan yang dialaminya memanaskan bagian depan dari batu ini.
7) Bila kaca dipanaskan dengan tidak merata (perbedaan temperatur yang besar antara bagian depan dan belakangnya), ia akan pecah. Seperti menuangkan air mendidih kedalam gelas minum.
8) Bagian depan dari Batu Tektite ini akan membentuk pecahan-pecahan kecil. Pecahan ini ditingkatkan juga oleh tekanan yang intens karena perlambatan kecepatan.
9) Kecepatan kosmik yang dibawa oleh momentum Batu Tektite ini pada akhirnya akan berkurang dan pecahnya batuan juga akan berkurang.
10) Karena ini Tektite akan jatuh ke bumi dengan gravitasi dengan gerakan yang lebih vertikal.
11) Di bumi Tektite dibawa oleh air sungai dan mungkin tererosi.
12) Pada akhirnya Tektite akan tergabung dengan endapan sediment yang biasanya juga mengandung timah (tererosi dari deposit panas bumi yang terkait dengan intrusi batu granit).
13) Di dalam tumpukan pasir yang berporositas tinggi, air tawar akan dengan sangat perlahan mengukir Tektite. Retakan setipis kertas (terbentuk karena gelas itu dipanaskan saat memasuki kembali atmosfer bumi) akan diperbesar dan membentuk parit kecil berbentuk U. Perhatikan bahwa parit berbentuk U ini hanya terbentuk di bagian yang terpanaskan, bagian depan dari Tektite. Bagian belakang dari Tektite ini tetap seperti aslinya, berbentuk bola.

No comments:

Post a Comment