Thursday 18 January 2024

PISAU RAJA TUMPANG KALIMANTAN SELATAN - TAN-ST531 - SOLD !

 .







Pamor : Mrambut / uyahan
Panjang Bilah : 14cm




ASAL USUL RAJA TUMPANG.

Raja tumpang adalah salah satu senjata berukuran pendek mirip badik bermata dua bagian mata bawah lebih panjang dari bagian mata atas. dan bentuk sedikit membungkuk kebawah makin ke ujung makin meruncing.

Raja tumpang sangat pupuler di kalangan masyarakat bakumpai sampai di abadikan menjadi sebuah “Tugu atau monumen kebanggaan di kabupaten asal suku Bakumpai yakni Barito Kuala.

Tugu Raja Tumpang / Tugu 5 Desember (Jl. Lapangan 5 Desember, Kelurahan Marabahan Kota, Kec. Marabahan). 
Sumber photo : https://instakalimantan.blogspot.com/2016/03/tugu-tugu-kota-marabahan.html

Sebagai pengingat bagi anak cucu bahwa senjata ini tidak seperti senjata umumnya. dalam artian mempunyai sejarah yg mendalam bagi masyarakat bakumpai. Tidak hanya itu, bahkan logo kabupaten pun tidak ketinggalan terpampang senjata yang satu ini. tidak seperti kabupaten barito yg lain. diantaranya di dalam logo ada ikon mandau dan telawang.

Namun beda nampaknya dengan barito kuala karena disitu bagi warga Bakumpai terdapat sejarah untuk senjata yang satu ini (Raja Tumpang). Adapun beberapa sumber yg di dapat dari tutur lisan seperti pernah di ceritakan oleh ahli dalang wasi dari daerah kandangan (Alm. Ning Tarani) di teruskan oleh kai Mpu tarmuji kandangan. beliau menceritakan asal usul Raja Tumpang ini dalam versi wayang wasi.

Adapun bermula sebelum bernama Raja tumpang ia adalah bernama Baladrang jaya. pada jaman saka gantung. terdapatlah seorang diraja panguasa nan kejam. bergelar asu bernama. dimana satiap ada kasalahan sadikit saja langsung bunuh. ketika asu masuk kekuasaan malebar sampai ka ujung panti terdengar oleh asu ada tempat strategis untuk dijadikan benteng kekuasaan. Simpang tiga sungai saka bandar. ketika istana dan kekuasaan asu sudah terbentuk disitu asu memerintah seperti biasa dengan kejamnya. namun di antara sekian banyak warga. akhirnya ada jua salah satu yg berani bersuara. singkat cerita. tersebutlah duel antara raja Asu dan Baladrang jaya. singkat cerita pula akhirnya Asu kalah. maka semenjak itu di angkatlah si pemenang tadi menjadi Raja pengganti. dengan gelar “Raja Tumpang”.

Ini ringkasan cerita dari pada tutur lisan versi pewayangan wasi. yg sering dibawakan oleh sesepuh wasi di daerah Kandangan. adapun cerita masih panjang . namun dari cerita di atas. memang kenyataan cerita dan kemiripan kisah penah terjadi di Marabahan itu sendiri. ketika di selidiki lebih mendalam hikayat cerita versi legenda wasi. dengan kenyataan yg pernah terjadi di Marabahan memang hampir mirip.

pada jaman Belanda dahulu di Marabahan itu terdapat satu benteng belanda yg besar (tepatnya sekarang ini menjadi kodim 1005) . ini adalah cerita turun temurun. ketika jaman belanda dulu semua laki laki di tangkap dan disekap di dalam sel di benteng tersebut.

Adapun salah satu pemuda yg masih berada di sawah di hampiri keluarganya untuk melarikan diri. namun. berbalik keadaan. kemungkinan merasa belapati. atau kah merasa jika lari tidak ada tujuan juga. atau kasihan melihat keluarga atau teman temannya. dari sini lah kisah bermula. Pemuda tersebut nekat bermodal sebilah “lading (Raja Tumpang) ia mulai menyelinap membebaskan kawan kawan yg berada di sel belanda. entah bagaimana dan apa yg terjadi. tiba tiba alaram belanda berbunyi. seluruh pasukan belanda berlari serentak sambil menyiapkan senjata dan segera semua belanda itu menembak tiang bendera. entah seperti apa maksud mereka. hal itu di jelaskan oleh pedagang tradisional (bajaja) ketika itu ia bisa dan mampu berbahasa belanda. katanya. pemuda tadi dalam penglihatan belanda ia berdiri di tihang bendera. dan ketika di tembak. pelor hanya lewat saja. seperti menembak angin atau hantu bayangan saja.

pada kenyataannya pemuda tadi telah selesai membebaskan kawan kawan nya kemudian berbalik menyerang belanda dari arah belakang yg tanpa di sadari oleh belanda yg masih sibuk menembak tihang bendera. bermodal kan sebila Lading(Raja Tumpang) tadi itulah ia mampu menghabisi satu isi benteng belanda tersebut. sehingga belanda disitu tidak dihancurkan dengan pertempuran melainkan cuma satu orang secara senyap. kemudian setelah itu. untuk membungkam kejadian tersebut agar berita ini tidak sampai ke Banjarmasin jaman itu di khawatirkan belanda akan mengirim bantuan dan pasukan balasan dari Banjarmasin.

Beberapa “spion (mata mata lokal) yg akan melapor ke banjarmasin. segera pada malam itu juga di eksekusi di beberapa daerah. yg ada hubungan dengan belanda semua di eksekusi. itu upaya jaman itu untuk membungkam. kejadian tersebut. dan warga masyarakat semua sepakat waktu itu untuk merahasiakan dan tidak membicarakan masalah ini. untuk kebenaran cerita ini. memang tidak ada bukti yg kuat. hanyar bersumber dari tutur lisan tetuha. wallahu alam.

namun dari segi cerita ini. kita bisa menyimpulkan dan mengambil kesamaan dari cerita versi wayang wasi.

Adapun asu itu adalah senjata bermata dua lurus atas dan bawah mata simetris sama. itu kalo dilihat memang seperti senjata Sangkur Belanda jaman itu. adapun Raja tumpang ia yg sering di sebut Lading oleh warga setempat (bakumpai).”mimbit lading.(membawa Raja Tumpang) kenyataanya.

jadi Cerita memang ada kemiripan kisah. adapun sekarang memang dilihat dari segi sejarah dan peninggalan memang fakta di lapangan hampir merata tetuha sesepuh bahkan alim ulama dari Kalangan Bakumpai hampir semua Punya Raja Tumpang adapun sebagian adalah warisan. adapun sebagian adalah buatan baru. Mungkin sudah semacam tradisi. ketika memesan Lading ganggaman. di pandai besi. lalu di buatkan lah Raja Tumpang.

adapun filosofi dari Raja Tumpang yg dapat di ambil dari kesimpulan di atas adalah adalah

  1. kewibawaan.
  2. Tanggung Jawab.
  3. Kesetiaan.
  4. Keberanian
  5. kedewasaan.

demikian sedikit cerita mengenai Raja Tumpang.

Sumber tulisan : https://iub.or.id/raja-tumpang/

No comments:

Post a Comment