.
MANDAU PUSAKA DARI LOKSADO - TRH311
Di jantung pegunungan Meratus, tepatnya di tanah Loksado, Kalimantan Selatan, tersimpan sebilah mandau yang bukan sekadar senjata, melainkan jejak perjalanan waktu dan warisan leluhur yang tak ternilai. Konon, mandau ini berasal dari seorang tokoh masyarakat Dayak di Loksado — peninggalan kakek buyut yang diwariskan turun-temurun, menjadi pusaka keluarga yang dijaga dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang dari generasi ke generasi.
Panjang bilahnya mencapai kira-kira lima puluh sentimeter (50cm). Walaupun usianya sudah tak muda lagi, bilah mandau ini tetap berdiri tegak dalam keutuhannya. Terawat dengan penuh ketelatenan, permukaannya masih menyimpan kilau yang tenang — saksi bisu dari perawatan yang tak pernah putus, penghormatan yang terus mengalir sebagaimana nasihat leluhur yang senantiasa diingat.
Kelengkapan mandau ini pun menceritakan keaslian dan keaslian pembuatannya. Gagang atau pegangan terbuat dari tanduk rusa, yang bentuknya terasa pas di genggaman, seolah menyimpan kehangatan tangan-tangan pemilik terdahulu. Sementara kumpang atau sarungnya terukir dari kayu pilihan, yang seiring berjalannya waktu justru semakin menampakkan keindahan serat dan warnanya yang semakin tua namun tetap kokoh.
Dahulu, sarung mandau ini dihiasi empat simpai — ikatan rotan yang melambangkan kedudukan, kehormatan, dan tanggung jawab pemiliknya. Kini, hanya dua simpai yang tersisa. Namun kekurangan itu justru membuka kisah yang lebih dalam: terlihat jelas bekas-bekas ikatan simpai yang pernah ada di permukaan kumpang. Jejak itu terukir halus, menjadi tanda bahwa benda ini pernah menyandang kehormatan penuh, dan meskipun sebagian telah hilang dimakan waktu, kemuliaan serta maknanya tak pernah pudar.
Mandau bersimpai 4 berarti mandau yang sarungnya diberi 4 ikatan gelang rotan/logam (simpai)—bukan sekadar hiasan, melainkan lambang status, kehormatan, dan makna filosofis dalam tradisi Dayak (terutama Meratus/Kalsel).
Arti & Makna Utama
- Status & Kedudukan : Simpai 4 menandakan pemiliknya adalah pemimpin tingkat tinggi atau panglima perang yang berpengalaman, bukan panglima tertinggi (biasanya simpai 5) maupun warga biasa (simpai 3). Ia melambangkan wewenang memimpin pasukan, menjaga wilayah, dan memutus perkara adat.
Mandau ini berdiri kini sebagai jembatan masa lalu dan masa kini. Bilahnya yang utuh melambangkan keteguhan hati; gagang tanduk dan sarung kayunya menyiratkan keselarasan manusia dengan alam; sisa dua simpai beserta bekas ikatan lainnya mengingatkan bahwa waktu dapat mengubah rupa, namun nilai luhur dan kasih sayang keluarga yang diwariskan akan tetap abadi, tak akan pernah hilang dimakan zaman.
Mandau ini kami maharkan
dengan Harga mahar
8.750.000 IDR







No comments:
Post a Comment