Wednesday, 2 October 2019

PENGINANGAN LABU KUNINGAN BAHARI BERUKIR - #TAN774

tradisi menginang








 Ada retak kecil di bibir bokor







PENGINANGAN LABU KUNINGAN BAHARI BERUKIR
Item Code : TAN 774

Ini adalah tempat Kinangan buatan lama.
Zaman dulu di Banjarmasin hampir setiap rumah mempunyai
alat-alat pengkinangan beserta kelengkapan lainnya.
Setelah tradisi menginang mulai ditinggalkan, jadilah tempat-tempat
kinangan ini menjadi barang antik.
Material : Kuningan
Ukuran :
- Tinggi : 23cm
- Lebar : 22cm
- Berat sekitar : -/+ 1834 grams.
Kondisi : Bagus ! Silahkan cek photo2 di atas
Origin : Kalimantan Selatan 1800 - 1900s

HARGA : 1.750.000,- Idr

=============================================================


Tradisi Bersirih atau Menginang (makan pinang) adalah warisan budaya Indonesia yang dilakukan dengan mengunyah bahan-bahan bersirih seperti pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur, cengkih. Kebiasaan menginang telah berlangsung lama, yaitu lebih dari 3000 tahun yang lampau atau pada zaman Neolitik, hingga saat ini.


Menginang sama halnya dengan merokok, minum teh dan kopi. Awalnya orang menginang sebagai penyedap di mulut, tetapi lama-kelamaan kan menjadi kebiasaan yang menimbulkan kesenangan dan terasa nikmat sehingga sulit untuk dilepaskan. Di samping untuk kenikmatan, menginang juga berfungsi sebagai aktivitas pengobatan merawat gigi. Masyarakat Indonesia telah lama mengenal daun sirih sebagai bahan menginang dengan keyakinan bahwa menginang dapat menguatkan gigi, menyembuhkan luka di mulut, menghilangkan bau mulut, menghentikan pendarahan gusi, serta sebagai obat kumur. Fungsi menginang juga sebagai tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan. Misalnya, bahan-bahan menginang dijadikan hidangan penghormatan untuk tamu, dan sebagai alat pengikat dalam pertunangan sebelum menikah. Menginang juga digunakan sebagai sesaji yang digunakan dalam upacara adat istiadat dan upacara kepercayaan atau religi.
Tradisi mengunyah sirih menyimbolkan ketulusan dan rasa hormat kepada orang lain. Tradisi menginang juga sebagai tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan. Oleh karena itu, sirih pinang selalu ada dalam perjamuan tamu, perkawinan, atau upacara adat.

No comments:

Post a Comment